Sunday, January 5, 2014

Sejarah Masjid Agung Ponorogo Versi Buku Sejarah Babad Cikal Bakal Masjid Jami’

3:16 PM
Sejarah Masjid Agung PonorogoMenurut Buku Sejarah Babad Cikal Bakal Masjid Jami’ pendiri masjid Agung adalah Kyai Muhammad Karsa I. Beliau adalah keturunan Adipati Bathara Katong. Pada suatu malam ketika Kyai Muhammad Karsa I sholat tahajud, hatinya tergerak timbul niat untuk mendirikan masjid.
Kemudian Kyai Muhammad Karsa I menghadap Bupati Mertohadinegara (Bupati pertama Ponorogo kota baru) untuk menyampaikan niatnya dan minta persetujuan mendirikan masjid jami’ di desa kauman. 




Mendengar hal tersebut Bupati Mertohadinegara sangat senang, akhirnya Bupati menunjuk Kyai Muhammad Karsa I uuntuk menjadi menggala pembangunan masjid. Untuk mengawali rencana tersebut Kyai Muhammad Karsa I mengundang dan minta doa restu para kyai yang ada di Ponorogo, dan beliau-beliu pun menyetujuinya.

Pada hari yang telah ditentukan, tugas dibagi-bagi dan dibemtuk kelompok-kelompok. Kayu yang digunakan bahan baku pembuatan masjid tersebut diambilkan dari Hutan Selentuk, Ponorogo bagian timur. Untuk menebang kayu yang besar di hutan itu para Kyai berdoa memohon pada Allah SWT. agar diberi kemudahan dan dijauhkan dari kekuatan bangsa halus yang menghuni hutan tersebut.

Setelah pohon-pohon tersebut selesai ditebang, cara mengangkutnya adalah diglender, yaitu pasangan-pasangan kayu yang gilig-gilig (silinder) dijajar-jajar di jalan. Selanjutnya kayu-kayu yang besar ditaruh di atasnya dan didorong maju bersama-sama dengan menyerukan kalimat tauhid “ Laa ilaha illallah” serentak. 

Ketika proses memasang kayu yang berat-berat kekuatan tenaga dan akal tidak mampu. Para Kyai kemudian berdoa memohon kekuatan gaib pada Dzat Yang Maha Kuasa. Doa para Kyai dikabulkan Allah dan pekerjaan dapat dilanjutkan sampai selesai. Setelah masjid selesai dibangun yang menjadi kyai masjid adlah Kyai Muhammad Karsa I dan penghulu masjid adalah Penghulu Jaelani. 

Konon kabarnya tiang-tiang yang besar dan tinggi serta pilar-pilar yang banyak itu, hanya berasal dari satu pohon saja. Karena amat besarnya pohon cukup untuk kenduren seratus orang. Dan ujung pohon tersebut dapat dijadikan beberapa bedug, diantaranya bedug masjid Agung Ponorogo dan masjid desa Menang.